Manusia Bambu merupakan salah satu dari empat ajaran pokok Sosrokartono mengenai kesatuan keluarga umat manusia melampaui keberagaman suku, bangsa, ras, warna kulit, kasta, gender, dan agama.
“Pring padha pring
Weruh padha weruh
Eling tanpa nyanding.”
Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”
Versi lain berbunyi:
“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”
Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”
Terjemahan yang tepat untuk doktrin tersebut memang ialah “Pemuda”.
Namun, saya memilih kata “Manusia” setelah memahami bahwa maksud dari ajaran tersebut bahwa “Jejaka” ialah simbol ungkapan Kartono untuk seorang manusia yang murni (karena jejaka berarti seorang yang belum menikah).
Tampaklah di sini bahwa Kartono mengambil simbolisasi yang akrab dalam kearifan Barat, bahwa seorang yang belum kawin (virgin) merupakan perlambang manusia yang fitri, murni dan belum ternoda oleh hasrat-hasrat jasmaniah yang telah tersalurkan atau teraktualisasi.
Dengan demikian, maksud Kartono akan “pemuda yang belum kawin” senada dengan manusia itu sejatinya bagai bambu, sebelum ia mengaktualisasikan hasrat-hasrat jasmaniahnya yang hewani dan naluriah, tanpa mengandung kedalaman pikiran atau penghayatan nurani melainkan hanya pemuasan kehendak.
Dalam kondisi yang fitri dan murni itu, yakni keadaan sejati dengan melandasi segala perbuatannya dengan penghayatan batin dan kedalaman pikiran, semua manusia pada dasarnya bermanfaat ibarat bambu, siapa pun dia.
“Kita semua adalah bambu”, adalah prinsip persaudaraan universal yang terkandung dalam filsafat Kartono,
RA Gayatri Wedotami Muthari

Terjemahan:
http://triscbn.wordpress.com/pustaka-jawa/ajaran-rmp-sosro-kartono/
Ditulis dalam “AJARAN R.M.P SOSRO KARTONO Mas Kumitir”:
Sumber rujukan penerjemah:
• Indy G. Hakim, Tafsir Surat-surat & Mutiara-mutiara Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Pustaka Kaona, April 2008)
• Pa’ Roesno, Karena Panggilan Ibu Sejati : Riwayat Hidup dari Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Djakarta : 1954)
• Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, Kempalan Serat-serat : Drs. Sosrokartono, (Surabaya : Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, 1992)
• Serat Saking Medan, 12 Mei 1931 dalam Suxmantojo, Kempalan Serat-serat Drs. R.M.P. Sosrokartono
• Serat Saking Binjei, 5 Juli 1931
• Serat Saking Binjei, 9 Juli 1931
• Serat Saking Tanjung Pura (Langkat), 26 Oct. 1931
• Serat Saking Tanjung Pura, 11 Oct. 1931
• Djoko Pring, “Aji Pring”, (Binjei, 12 Nov. 1931)
• Djoko Pring, Omong Kosong, (Binjei, 12 Nov. 1931)
• R. Mohammad Ali, Ilmu Kantong Bolong, Ilmu Kantong Kosong, Ilmu Sunji Drs. R.M.P. Sosrokartono
• Djoko Pring, Lampah lan Maksudipun, (Binjei 12 Nov. 1931)
